Jakarta, 31 Agustus 2026 – Satu tahun Gerakan Numerasi Nasional menjadi momentum untuk melihat bagaimana penguatan numerasi mulai tumbuh dari berbagai praktik baik di satuan pendidikan. Numerasi tidak lagi dipandang sebatas kemampuan berhitung, tetapi sebagai kemampuan penting bagi murid untuk berpikir, memahami persoalan, memecahkan masalah, dan mengambil keputusan dalam kehidupan sehari-hari.
Semangat tersebut menjadi bahasan utama Sapa GTK Episode 6 bertajuk “Satu Tahun Gerakan Numerasi Nasional: Dari Praktik Baik Tumbuh Gerakan, Dari Semangat Lahir Perubahan”, yang diselenggarakan Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan (Ditjen GTK) Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), Senin (31/8/2026).
Webinar menghadirkan Direktur Guru Pendidikan Dasar Rachmadi Widdiharto, akademisi Universitas Muhammadiyah Prof. DR. HAMKA Puri Pramudiani, guru SDN Kuningan Barat 01 Jakarta Selatan Eva Nailun Ni’ma, dan guru SDN 140 Masumpu, Soppeng, Sulawesi Selatan Agus Supramono. Diskusi dipandu oleh Yane Hendarrita dari Direktorat Guru Pendidikan Dasar.
Direktur Guru Pendidikan Dasar, Rachmadi Widdiharto, dalam sambutannya menekankan pentingnya memandang numerasi sebagai kemampuan yang hadir dalam berbagai aktivitas kehidupan. Menurutnya, penguatan numerasi perlu dilakukan melalui pembelajaran yang mendorong murid menggunakan pengetahuan matematika untuk memahami situasi nyata, memecahkan masalah, dan mengambil keputusan.
Rachmadi menegaskan bahwa guru menjadi salah satu kunci dalam menghadirkan pembelajaran matematika yang berkualitas, menyenangkan, dan sesuai dengan kebutuhan murid.
“Penguatan numerasi harus berjalan bersama dengan penguatan kompetensi guru . Guru adalah bagian penting dalam gerakan ini, karena kualitas pembelajaran sangat menentukan bagaimana kemampuan numerasi murid berkembang,” jelasnya.
Di momentum satu tahun Gerakan Numerasi Nasional ini, Rachmadi juga mengajak para guru untuk terus belajar, meningkatkan kompetensi, dan mengembangkan praktik pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan murid. “Mari kita mulai bergerak dari hal-hal kecil, dari satu permainan atau aktivitas sederhana yang membuat anak senang belajar matematika. Dari hal kecil itu tumbuh praktik baik, praktik baik melahirkan inspirasi, dan inspirasi yang dibagikan akan tumbuh menjadi gerakan bersama untuk memperkuat numerasi,” ajak Rachmadi.
Sementara itu, Puri Pramudiani mengingatkan bahwa Gerakan Numerasi Nasional perlu dipahami secara holistik. Penguatan numerasi tidak hanya berfokus pada peningkatan kemampuan murid, tetapi juga pada penguatan kapasitas guru, tenaga kependidikan, dan satuan pendidikan dalam membangun ekosistem pembelajaran yang mendukung.
Puri melihat, perjalanan satu tahun Gerakan Numerasi Nasional menunjukkan tumbuhnya berbagai praktik baik di satuan pendidikan. Hal ini menjadi bukti bahwa penguatan numerasi dapat dilakukan melalui beragam pendekatan yang disesuaikan dengan kebutuhan dan konteks masing-masing sekolah.
“Satu tahun Gerakan Numerasi Nasional menunjukkan bahwa ketika guru dan satuan pendidikan diberikan ruang untuk berinovasi, tumbuh berbagai praktik baik. Inilah yang penting untuk terus dibagikan agar menjadi inspirasi dan dapat dikembangkan di tempat lain,” jelasnya.
Lebih lanjut, Puri menekankan bahwa penguatan numerasi perlu dilakukan secara bersama-sama karena tantangan numerasi bersifat multidimensi dan tidak dapat diselesaikan oleh satu pihak saja. Karena itu, diperlukan sinergi antara sekolah, keluarga, masyarakat, dan media sebagai bagian dari catur matra pendidikan. Kolaborasi keempat unsur tersebut menjadi kunci dalam menciptakan ekosistem yang mendukung tumbuhnya budaya numerasi secara berkelanjutan.
Gagasan tentang penguatan kompetensi guru dan pembelajaran yang kontekstual kemudian terlihat dalam praktik yang dibagikan dua guru dari daerah berbeda.
Eva Nailun Ni’ma, guru SDN Kuningan Barat 01 Jakarta Selatan, berbagi pengalaman tentang pembelajaran numerasi yang dimulai dari pengalaman murid. Menurut Eva, anak telah memiliki banyak pengalaman numerasi dalam kehidupan sehari-hari yang dapat menjadi titik awal pembelajaran.
“Belajar numerasi bisa dimulai dari pengalaman anak. Mereka sudah berhadapan dengan angka, jumlah, ukuran, waktu, jarak dan berbagai persoalan dalam kehidupan sehari-hari. Pengalaman itu yang kemudian kita bawa ke dalam pembelajaran,” ujarnya.
Pendekatan tersebut membuat murid dapat menghubungkan konsep matematika dengan kehidupan mereka sehingga pembelajaran terasa lebih relevan dan bermakna.
Sementara itu, Agus Supramono, guru SDN 140 Masumpu, Soppeng, Sulawesi Selatan, berbagi praktik baik melalui pengembangan Taman Numerasi di sekolah. Bersama rekan-rekan guru, Agus secara bergotong royong memanfaatkan lingkungan sekolah untuk dikembangkan menjadi Taman Numerasi sebagai ruang belajar yang memungkinkan murid mengenal dan mempraktikkan konsep numerasi melalui berbagai aktivitas yang konkret dan menyenangkan.
Menurut Agus, Taman Numerasi tidak hanya menjadi ruang belajar bagi murid, tetapi juga menjadi sarana untuk membangun kolaborasi dan semangat gotong royong warga sekolah.
“Taman Numerasi bukan sekadar tempat, tetapi ruang untuk melakukan berbagai aktivitas belajar. Ketika guru, sekolah, orang tua dan masyarakat ikut bergerak, inovasi sederhana bisa berkembang menjadi sesuatu yang memberikan manfaat lebih besar bagi anak,” ujarnya
Praktik Eva dan Agus menunjukkan bahwa penguatan numerasi dapat dilakukan dengan berbagai cara. Pembelajaran dapat dimulai dari pengalaman murid, sementara lingkungan sekolah dapat dikembangkan menjadi ruang belajar numerasi.
Setahun Gerakan Numerasi Nasional menjadi pengingat bahwa perubahan tidak selalu dimulai dari sesuatu yang besar. Ia dapat dimulai dari satu guru yang mau mencoba, satu sekolah yang mau bergerak, dan satu praktik baik yang dibagikan kepada orang lain.
Melalui Sapa GTK Episode 6, Ditjen GTK mengajak guru dan satuan pendidikan untuk terus meningkatkan kompetensi, mengembangkan pembelajaran yang menyenangkan, serta berbagi praktik baik agar semangat numerasi semakin luas.
Guru bergerak, numerasi tumbuh. Dari praktik baik, lahir gerakan. Dari semangat bersama, lahir perubahan.
