Tangerang Selatan, Kemendikdasmen-Indonesia tengah menghadapi tantangan besar dalam menyiapkan generasi yang interaktif, partisipatif, dan relevan dengan kebutuhan zaman, terutama di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital dan Kecerdasan Artifisial yang kian mempengaruhi berbagai aspek kehidupan. Dalam konteks ini, integrasi Koding dan Kecerdasan Artifisial (KKA) menjadi semakin penting, yakni dengan menggabungkan logika koding dan pemanfaatan kecerdasan artifisial dalam proses pembelajaran untuk meningkatkan kemampuan kognitif serta keterampilan pemecahan masalah murid. Menjawab hal tersebut, Pendekatan Pembelajaran Mendalam (PM) hadir sebagai langkah strategis yang mendorong transformasi pendidikan agar lebih adaptif terhadap perubahan. PM menekankan proses pendidikan yang memuliakan manusia melalui pengalaman belajar yang berkesadaran (mindful), bermakna (meaningful), dan menggembirakan (joyful). Melalui pendekatan ini, pembelajaran tidak lagi berfokus pada penguasaan materi semata, melainkan diarahkan pada penguatan nalar kritis, kemampuan kolaborasi, serta kemandirian murid yang berakar pada konteks kehidupan nyata.
Sejalan dengan upaya tersebut, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah melalui Direktorat Guru Pendidikan Dasar menyelenggarakan Bimbingan Teknis Penguatan Fasilitator Nasional Pembelajaran Mendalam serta Koding dan Kecerdasan Artifisial pada jenjang pendidikan dasar pada 4 sampai 8 Mei 2026 di hotel Swiss-Belhotel Serpong Tangerang Selatan. Dr. Nita Isaeni selaku ketua Tim Pembelajaran, Kesejahteraan dan Penghargaan Direktorat Guru Pendidikan Dasar dalam laporannya menjelaskan tujuan dari kegiatan ini salah satunya adalah membekali peserta dengan pemahaman utuh tentang konsep dan kerangka kerja Pembelajaran Mendalam, termasuk delapan dimensi profil lulusan, prinsip pembelajaran yang berkesadaran, bermakna, dan menggembirakan, serta integrasi koding dan kecerdasan artifisial. Bimtek diikuti 244 peserta, terdiri atas 238 calon Fasilitator Nasional yang terdiri dari 6 peserta dari perguruan tinggi, 102 peserta dari jenjang SD dan 136 peserta dari jenjang SMP dengan fokus pada Koding dan Kecerdasan Artifisial (KKA), Matematika, dan Bahasa Indonesia.
Diharapkan melalui kegiatan ini, penguasaan Pembelajaran Mendalam, Koding dan Kecerdasan Artifisial, serta kompetensi fasilitasi berbasis andragogi semakin meningkat. Selain itu, terinternalisasinya standar mutu pelatihan yang seragam diharapkan turut mendorong peningkatan kemampuan dalam mensimulasikan strategi pelatihan secara eksperimental.
Di waktu yang sama, dalam sambutan pembukaan, Direktur Guru Pendidikan Dasar, Dr. Rachmadi Widdiharto, M.A mengemukakan melalui Pembelajaran Mendalam (PM), kita menggeser paradigma dari sekadar penguasaan materi menuju penguatan nalar kritis, kolaborasi, dan kemandirian murid yang kontekstual. Implementasinya didukung kurikulum yang interaktif dan adaptif berbasis teknologi, seperti Papan Interaktif Digital (PID), serta penguatan ekosistem belajar yang menjadikan sekolah sebagai laboratorium pembelajaran, dengan pendidik berperan sebagai peneliti dan agen perubahan.
Lebih lanjut, Rachmadi menjelaskan dalam Bimtek ini diterapkan pendekatan inkuiri kolaboratif melalui siklus Teacher Experimental Training (TET) Assess, Design, Implement, serta Measure-Reflect-Change untuk mendorong perbaikan pembelajaran berkelanjutan. Selain itu, peserta dilatih menganalisis praktik baik dan mengembangkan ide inovatif yang dapat diadaptasi di kelas maupun sekolah masing-masing. Diharapkan, melalui kolaborasi aktif dan semangat belajar sepanjang hayat, pendidikan bermutu bagi seluruh anak bangsa dapat terwujud demi Indonesia Emas 2024.
Bimtek Penguatan Fasilitator Nasional Pembelajaran Mendalam serta Koding dan Kecerdasan Artifisial Jenjang Pendidikan Dasar dibuka secara langsung oleh Moch. Abduh, MS.Ed., Ph.D. Staf Ahli Menteri Bidang Teknologi Pendidikan Kemendikdasmen. Dalam sesi pembukaannya, Abduh menegaskan bahwa kualitas hasil belajar masih menjadi tantangan serius, tercermin dari data PISA 2022 di mana 75% siswa usia 15 tahun belum mencapai standar membaca dan 82% di bawah standar matematika. Ia juga menyoroti fenomena schooling without learning, kesenjangan infrastruktur, serta pergeseran persaingan global yang kini bertumpu pada penguasaan data, teknologi, dan talenta digital, khususnya Kecerdasan Artifisial (KA).
Selain itu, disampaikan pentingnya meluruskan miskonsepsi bahwa koding dan KA bukan saling menggantikan, melainkan saling menguatkan, dengan peran manusia tetap krusial dalam kreativitas, pemahaman konteks, dan perancangan solusi.
Arah kebijakan difokuskan pada penguatan pembelajaran mendalam serta integrasi koding dan KA, terutama pada jenjang PAUD dan pendidikan dasar sebagai pondasi. Tujuannya adalah membentuk generasi yang adaptif, kritis, kreatif, dan beretika. Dalam hal ini, fasilitator berperan sebagai penggerak implementasi kebijakan, pendamping guru, sekaligus agen perubahan dalam peningkatan kualitas pendidikan.
