Berawal dari Saung Edukasi untuk Anak-anak Desa
Taman Numerasi “Jawara” di Desa Cikalong, Bandung Barat, menjadi salah satu contoh nyata bagaimana pendidikan dapat tumbuh dari inisiatif masyarakat. Berawal dari Saung Edukasi yang dibangun warga setempat, ruang sederhana ini kini berkembang menjadi tempat belajar nonformal yang aktif, terbuka, dan berdampak bagi anak-anak di lingkungan sekitar.

Taman Numerasi Jawara sebelumnya dikenal sebagai Saung Edukasi. Tempat tersebut dibangun oleh Titin Kartini, warga Desa Cikalong, dengan tujuan memberikan manfaat bagi masyarakat melalui kegiatan edukatif. Menurut Titin, lokasi tersebut dipilih karena suasananya relatif tenang dan sering dikunjungi anak-anak.
“Taman Numerasi ini dibangun di sini karena tempatnya lebih sunyi dan sering dikunjungi anak-anak. Kami ingin menyediakan ruang belajar yang dekat dengan mereka, tempat yang membuat anak-anak merasa belajar itu menyenangkan, sekaligus memberi ruang bagi mereka untuk tumbuh dan bermimpi,” ujar Titin Kartini.
Titin menegaskan, Taman Numerasi bukan sekadar simbol atau fasilitas pelengkap. Lebih dari itu, tempat ini menjadi sarana aktif pendidikan nonformal gratis bagi warga. Dampaknya pun mulai dirasakan, terutama oleh anak-anak yang mendapatkan ruang tambahan untuk belajar di luar sekolah.
Selain menjadi ruang belajar, Taman Numerasi Jawara juga dimanfaatkan sebagai tempat pengumpulan bank sampah. Aktivitas ini membuat anak-anak semakin antusias datang dan berkumpul. Kegiatan edukasi pun berjalan beriringan dengan pembiasaan peduli lingkungan.
Peran karang taruna menjadi salah satu faktor penting dalam menghidupkan taman tersebut. Para pemuda setempat turut membantu mendampingi anak-anak, menggerakkan kegiatan, serta mengelola bank sampah. Melalui kolaborasi ini, Taman Numerasi Jawara tidak hanya menjadi tempat belajar angka, tetapi juga ruang pembentukan karakter, kepedulian sosial, dan tanggung jawab lingkungan.
Dukungan terhadap keberadaan taman ini juga datang dari Pemerintah Kecamatan Cikalong Wetan. Camat Cikalong Wetan, Dadang Sapardan, menyampaikan bahwa di wilayahnya terdapat 13 taman serupa. Namun, Saung Edukasi dipilih karena dinilai telah berjalan aktif dan memberi dampak nyata bagi masyarakat.
“Di kecamatan ini ada 13 taman serupa. Saung Edukasi dipilih karena tempat ini sudah berjalan aktif dan memberikan dampak nyata bagi masyarakat. Ibu Titin adalah warga yang sangat inovatif. Beliau mampu menggerakkan ruang sederhana menjadi tempat belajar yang hidup,” ujar Dadang.
Mengenalkan Matematika Lewat Cara Menyenangkan
Dalam kegiatan “Semua Bisa Mengajar”, Direktur Guru Pendidikan Dasar, Rachmadi Widdiharto, turut hadir dan berinteraksi langsung dengan anak-anak. Kegiatan berlangsung dalam suasana santai dan partisipatif. Anak-anak diajak mengenal konsep numerasi melalui permainan, percakapan, dan contoh-contoh yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Rachmadi mengenalkan bangun datar, memberikan tebak-tebakan angka, serta mengajarkan matematika praktis melalui contoh membaca aturan minum obat. Ia juga memperkenalkan logika dasar perkalian dan pembagian menggunakan alat sederhana seperti sedotan dan gelas.

Di hadapan anak-anak, Rachmadi menyampaikan bahwa matematika bukanlah pelajaran yang perlu ditakuti. Ia mengajak anak-anak untuk melihat matematika sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari.
“Anak-anak, sebelum kita main tebak-tebakan lagi, Bapak mau tanya jujur. Siapa di sini yang kalau dengar kata matematika rasanya langsung pusing atau deg-degan takut dimarahi guru?” ujar Rachmadi membuka percakapan.
Sejumlah anak tampak ragu-ragu mengangkat tangan. Melihat respons tersebut, Rachmadi berusaha mencairkan suasana dengan menceritakan pengalamannya saat masih duduk di bangku sekolah dasar.
“Wajar kok. Tapi hari ini Bapak mau kasih tahu satu rahasia besar. Matematika itu sebenarnya bukan monster yang menakutkan. Matematika itu sahabat kita setiap hari,” katanya.
Rachmadi kemudian memberikan contoh sederhana. Ia menjelaskan bahwa aturan minum obat “3x1” merupakan bagian dari matematika karena anak belajar memahami jumlah dan waktu. Ia juga mencontohkan pembagian martabak di rumah sebagai bentuk penerapan matematika dalam kehidupan sehari-hari.
“Matematika itu bukan cuma tentang angka-angka dan rumus di papan tulis. Matematika adalah cara kita menyelesaikan masalah sehari-hari. Bahkan ketika kita membagi makanan secara adil, di situ ada matematika,” ujarnya.
Memahami Makna Numerasi yang Sebenarnya
Selain berinteraksi dengan anak-anak, Rachmadi juga berdiskusi dengan Titin Kartini dan para pemuda karang taruna. Dalam pertemuan tersebut, mereka menyampaikan bahwa pendidikan numerasi masih cukup awam di masyarakat. Banyak warga masih memaknai numerasi sebatas kemampuan berhitung, padahal cakupannya lebih luas.

Menanggapi hal itu, Rachmadi menjelaskan bahwa Taman Numerasi perlu dipahami sebagai area belajar, baik di luar maupun di dalam ruangan, yang dirancang untuk memperkenalkan dan memperkuat konsep matematika dasar melalui aktivitas bermain, eksplorasi, dan pengalaman interaktif yang menyenangkan.
“Taman Numerasi bukan hanya tempat anak belajar berhitung. Ini adalah ruang untuk membangun cara berpikir. Anak-anak diajak memahami angka, pola, bentuk, logika, dan data melalui pengalaman yang dekat dengan kehidupan sehari-hari,” ujar Rachmadi.
Ia menambahkan, taman numerasi dapat dikembangkan melalui berbagai kegiatan dan fasilitas sederhana. Misalnya, zona bermain interaktif berupa lantai bergambar angka untuk permainan lompat, engklek numerasi, atau labirin matematika. Anak-anak juga dapat dikenalkan pada bangun datar dan bangun ruang melalui alat peraga yang bisa dipegang, disusun, dan dimainkan secara langsung.
Selain itu, papan pola dan logika dapat digunakan untuk melatih kemampuan berpikir kritis, mengenali pola, membaca data, dan menganalisis hubungan antarbenda. Dengan pendekatan tersebut, numerasi tidak berhenti pada kemampuan menghitung, tetapi berkembang menjadi kecakapan hidup.
Rachmadi menekankan bahwa tujuan utama numerasi bukan semata-mata membuat anak mampu menjawab soal matematika. Numerasi harus membantu anak berpikir logis, kreatif, serta mampu menggunakan angka dan data untuk memecahkan persoalan praktis dalam kehidupan sehari-hari.
“Yang penting adalah bagaimana anak-anak merasa dekat dengan matematika. Kita perlu menghilangkan stigma bahwa matematika itu sulit dan menakutkan. Caranya dengan menghadirkan matematika dalam dunia bermain mereka,” katanya.
Kehadiran Taman Numerasi Jawara menunjukkan bahwa penguatan pendidikan tidak selalu harus dimulai dari fasilitas besar. Inisiatif warga, dukungan pemerintah, keterlibatan pemuda, dan antusiasme anak-anak dapat menjadi modal penting untuk membangun ekosistem belajar yang bermakna.
Melalui gerakan “Semua Bisa Mengajar”, Taman Numerasi Jawara menjadi pengingat bahwa pendidikan adalah tanggung jawab bersama. Siapa pun dapat mengambil peran, baik dengan mengajar, mendampingi, menyediakan ruang, maupun menggerakkan masyarakat.
Dari sebuah saung sederhana di Cikalong Wetan, semangat itu tumbuh. Semua bisa mengajar. Semua bisa berbagi. Dan dari ruang kecil seperti Taman Numerasi Jawara, mimpi anak-anak Indonesia terus dinyalakan.
