Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, Salam hangat untuk Bapak dan Ibu Guru hebat yang senantiasa menjadi pelita di seluruh penjuru tanah air.
Bapak Ibu Guru yang saya banggakan, beberapa hari yang lalu, tepatnya pada 9 hingga 11 Februari 2026, sebuah perhelatan besar baru saja usai kita laksanakan di PPSDM Kemendikdasmen. Berbagai pemikir dan penggerak pendidikan berkumpul dalam Konsolidasi Nasional (Konsolnas) Pendidikan Dasar dan Menengah Tahun 2026. Mulai dari pimpinan kementerian, wakil rakyat, kepala dinas dari seluruh provinsi dan kabupaten/kota, hingga mitra pembangunan hadir dengan satu tujuan. Kehadiran mereka menegaskan satu pesan penting: pendidikan adalah urusan semesta, dan Bapak Ibu tidak berjuang sendirian.
Tema konsolnas, “Memperkuat Partisipasi Semesta, Wujudkan Pendidikan Bermutu untuk Semua,” menjadi pengingat bahwa kita sedang membangun sebuah gerakan besar dan pendidikan adalah urusan kita bersama. Kami menyadari sepenuhnya, bahwa pertemuan dalam konsolnas hanyalah sebuah titik awal. Kebijakan, angka-angka statistik, dan dokumen strategi baru akan lebih bermakna ketika sampai di tangan Bapak dan Ibu guru sekalian dalam praktik pembelajaran di ruang-ruang kelas. Konsolnas merupakan ruang refleksi tentang sejauh mana ikhtiar kita menghadirkan pendidikan bermutu benar-benar dirasakan oleh murid-murid kita.
Kita patut bersyukur, tahun 2025 telah menjadi fondasi yang kuat. Program revitalisasi sekolah menjangkau lebih dari 16 ribu satuan pendidikan menjadi bukti nyata keberpihakan pada perbaikan sarana dan prasarana. Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti dalam konsolnas juga menegaskan pentingnya akselerasi program prioritas 2026: Wajib Belajar 13 Tahun, digitalisasi pendidikan, penguatan pembelajaran koding dan kecerdasan artifisial, serta revitalisasi yang ditargetkan menjangkau 60 ribu sekolah. Ini merupakan ikhtiar menghadirkan ruang belajar yang lebih aman, nyaman, dan layak bagi anak-anak kita. Semua ini menunjukkan bahwa arah kebijakan 2026 tidak hanya fokus pada akses, tetapi juga mutu dan relevansi pendidikan di tengah tantangan zaman.
Kita semua merasakan betul bahwa hari ini kita hidup di zaman ketika teknologi bukan lagi sekadar pelengkap, melainkan sudah menjadi bagian dari keseharian. Di ruang-ruang kelas, di rumah, bahkan dalam cara anak-anak kita berinteraksi dan belajar, teknologi hadir begitu dekat. Karena itulah, ikhtiar digitalisasi pembelajaran terus kita lakukan. Distribusi Papan Interaktif Digital (PID) kita dorong agar menjangkau hingga ke pelosok negeri. Tahun ini, pemerintah menargetkan setiap satuan pendidikan secara bertahap dapat memperoleh tiga perangkat PID.
Namun kita sepakat, perangkat hanyalah alat. Ruh pembelajaran tetap berada di tangan guru. Teknologi akan benar-benar bermakna ketika ia berpadu dengan kreativitas, empati, dan kompetensi pedagogik yang Bapak dan Ibu Guru miliki. Di sanalah pendekatan pembelajaran mendalam (deep learning) menemukan relevansinya. Kita tidak sekadar mengajak murid memahami materi, tetapi membimbing mereka untuk mengalami proses belajar yang utuh. Teknologi sebagai penguat langkah kita bersama dalam menghadirkan pembelajaran yang lebih hidup, lebih dalam, dan lebih bermakna bagi setiap murid di negeri ini.
Simulasi digitalisasi kelas yang menghadirkan praktik pembelajaran dengan PID, pemanfaatan Rumah Pendidikan, laboratorium maya, koding dan kecerdasan artifisial juga menjadi gambaran nyata bahwa kebijakan tidak berhenti pada konsep. Kita ingin memastikan bahwa transformasi digital benar-benar menyentuh proses belajar, melatih berpikir kritis, kreativitas, dan pemecahan masalah.
Penguatan karakter pun terus digerakkan melalui Gerakan Tujuh Kebiasaan Anak Indonesia Hebat bangun pagi, beribadah, berolahraga, makan sehat dan bergizi, gemar belajar, bermasyarakat, dan tidur cepat yang telah diikuti oleh 170.870 satuan pendidikan di 38 provinsi. Kebiasaan sederhana yang dilakukan konsisten diyakini membentuk fondasi karakter generasi masa depan.
Bapak Ibu Guru, penguatan kompetensi dan kesejahteraan Guru tetap menjadi prioritas utama kami. Kita patut berbangga bahwa sepanjang tahun lalu, 804.157 guru telah mengikuti Pendidikan Profesi Guru (PPG). Lebih dari itu, sebagai bentuk penghormatan profesi, tunjangan sertifikasi bagi guru non-ASN serta insentif bagi guru non-ASN telah ditingkatkan mulai tahun ini.
Dalam aspek evaluasi pembelajaran, Transformasi Tes Kemampuan Akademik (TKA) yang diikuti 3,48 juta siswa SMA/SMK/MA pada November 2025 menegaskan arah baru asesmen nasional. TKA tidak dimaksudkan untuk pemeringkatan, melainkan sebagai bahan refleksi dan perbaikan proses pembelajaran. Dalam Konsolnas, simulasi TKA melalui platform “Ayo Coba TKA” memberi kesempatan para peserta merasakan langsung bagaimana asesmen ini dirancang untuk membantu guru dan murid memahami capaian belajar secara lebih utuh.
Bapak Ibu Guru, Konsolidasi Nasional 2026 mengingatkan kita bahwa pendidikan bermutu tidak lahir dari kerja sendiri-sendiri. Ia tumbuh dari sinergi, kolaborasi, dan partisipasi semesta. Guru adalah penggerak utamanya. Bapak dan Ibu Guru adalah orkestrator perubahan yang menerjemahkan kebijakan menjadi pengalaman belajar yang hidup dan bermakna.
Mari kita jadikan semangat Konsolnas ini sebagai energi baru di sekolah dan ruang kelas masing-masing. Teruslah berinovasi, memanfaatkan teknologi secara bijak, memperkuat karakter peserta didik, dan menjaga ruang kelas tetap menjadi tempat yang aman, inklusif, dan menggembirakan.
Bersama, dengan partisipasi semesta dan komitmen yang tak pernah surut, kita wujudkan pendidikan bermutu untuk semua anak Indonesia.
