Kemendikdasmen, Februari 2026 — Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) melalui Direktorat Guru Pendidikan Dasar terus memperkuat implementasi pembelajaran koding dan kecerdasan artifisial (KA) di satuan pendidikan sebagai bagian dari transformasi pembelajaran yang berorientasi pada penguatan nalar, logika, dan kreativitas peserta didik.
Komitmen tersebut mengemuka dalam Forum Group Discussion (FGD) Perancangan Pembelajaran Koding dan Kecerdasan Artifisial Berbasis Praktik di Kelas yang diselenggarakan pada Rabu (11/2) di Hotel Qubika Serpong. Kegiatan ini menghadirkan para praktisi pendidikan serta guru-guru yang telah melaksanakan praktik baik pemanfaatan koding dan KA di kelasnya.
FGD ini bertujuan memetakan dan menyelaraskan materi modul Bimbingan Teknis (Bimtek)/Pelatihan Koding dan Kecerdasan Artifisial (KKA) bagi guru agar sesuai dengan kebutuhan implementasi di kelas serta tahapan perkembangan peserta didik. Selain itu, forum ini juga menyusun draf sistem dan model Bimtek/Pelatihan KKA yang efektif, inovatif, dan adaptif terhadap beragam konteks satuan pendidikan.
Pembelajaran koding dan KA diarahkan tidak semata pada penguasaan teknologi, melainkan pada pembentukan kemampuan berpikir kritis dan pemecahan masalah secara kontekstual sejak jenjang pendidikan dasar.
Staf Khusus Menteri Bidang Transformasi Digital dan Kecerdasan Buatan, Muchlas Rowi, dalam arahannya menyampaikan, “Pembelajaran koding dan kecerdasan artifisial bukan untuk menjadikan anak sebagai programmer, tetapi untuk melatih cara berpikir logis, kritis, dan kreatif agar mereka siap menghadapi tantangan masa depan.”
Implementasi pembelajaran dilakukan secara fleksibel melalui mata pelajaran pilihan, integrasi lintas mata pelajaran, serta kegiatan ekstrakurikuler sejalan dengan prinsip Kurikulum Merdeka. Sejumlah sekolah di berbagai daerah, termasuk wilayah 3T, telah menjadi bagian dari implementasi awal yang selanjutnya akan dirumuskan sebagai praktik baik untuk direplikasi secara nasional.
Turut hadir dalam kegiatan tersebut Staf Ahli Menteri Bidang Teknologi Pendidikan, Moch Abduh, yang menekankan pentingnya optimalisasi pemanfaatan teknologi pembelajaran di kelas, seperti layar interaktif, agar tidak hanya berfungsi sebagai pengganti papan tulis, tetapi mampu mendorong pembelajaran yang interaktif dan kolaboratif.
“Keberhasilan transformasi pembelajaran tidak hanya bertumpu pada guru. Diperlukan pula peran kepala sekolah dan pengawas agar kebijakan benar-benar berjalan efektif di tingkat satuan pendidikan,” tambahnya.
Melalui penguatan ekosistem pembelajaran dan pendampingan berkelanjutan, Kemendikdasmen berharap pembelajaran koding dan kecerdasan artifisial mampu mendorong peserta didik menjadi kreator teknologi yang beretika, bukan sekadar pengguna, sekaligus memperkuat daya saing generasi Indonesia di era transformasi digital.
